TERIAK : BLOG INI SUDAH PINDAH

March 19th, 2009 by gendo

KAWAN-KAWAN SEPERJUANGAN, ATAS NAMA BANGSA INDONESIA, GENDO MENYATAKAN PERPINDAHAN BLOG INI KE ALAMAT BLOG BARU DENGAN NAMA :

http://www.gendovara.com

HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN PEMINDAHAN DILAKSANAKAN SECARA SEKSAMA OLEH TIM BALI WEB DESIGN DAN BLOG MENDIAMI RUMAH BARU MELALUI PERUSAHAAN HOSTING INDONESIA BERNAMA BALI ORANGE COMMUNICATIONS.

SAMPAI JUMPA DISANA

TERIMA KASIH.

GENDOVARA

TERIAK 2

October 3rd, 2008 by gendo

kami bukanlah sisa-sisa sejarah. biarlah mereka pergi dengan segala pilihannya. tapi biarkan kami tetap dengan segala keyakinan yang kami pegang. karena kami harus membangun sejarah baru dan meretas keangkuhan ego para borjuasi

TERIAK

October 3rd, 2008 by gendo

Kami memang demonstran yang anti ORDE BARU dengan segala bentuknya.

dan Bila kami harus mati

jangan kuburkan kami di Taman Makan Pahlawan!

LIMBAH INDUSTRI DAN LIMPAHAN AIR MATA MANUSIA*

September 20th, 2008 by gendo

Oleh: I Wayan “Gendo” Suardana**

Sekapur Sirih

Permasalahan lingkungan hidup telah menjadi suatu penyakit kronis yang dirasa sangat sulit untuk dipulihkan. Selama 20 tahun terakhir Pembangunan ekonomi Indonesia mengarah kepada industrialisasi. Tidak kurang terdapat 30.000 industri yang beroperasi di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Peningkatan jumlah ini menimbulkan dampak ikutan dari industrialisasi ini yaitu terjadinya peningkatan pencemaran yang dihasilkan dari proses produksi industri. Pencemaran air, udara, tanah dan pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan persoalan yang harus dihadapi oleh komunitas-komunitas yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Gejala umum pencemaran lingkungan akibat limbah industri yang segera tampak adalah berubahnya keadaan fisik maupun peruntukan sesuatu lingkungan. Air sungai  atau air sumur sekitar lokasi industri  pencemar, yang semula berwarna jernih, berubah menjadi keruh berbuih dan terbau busuk, sehingga tidak layak dipergunakan lagi oleh warga masyarakat sekitar untuk mandi, mencuci, apalagi untuk bahan baku air minum. Terhadap kesehatan warga masyarakat sekitar dapat timbul penyakit dari yang ringan seperti gatal-gatal pada kulit sampai yang berat berupa cacat genetic pada anak cucu dan generasi berikut.

Read the rest of this entry »

INDONESIA, NEGARA DEMOKRASI ½ HATI

September 12th, 2008 by gendo

Penulis : I Wayan “Gendo” Suardana

….Turunkan harga secepatnya, berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau, menjadi manusia setengah dewa
Tegakan hukum setegak-teganya, adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau, menjadi manusia setengah dewa…..
Iwan Fals, Manusia ½ Dewa

Wacana Demokrasi dan Hak Asasi Manusia semakin marak akhir-akhir ini. Dalam pergaulan Internasional dua hal inilah yang secara tidak langsung menjadi parameter dari layak dan tidaknya sebuah negara diterima dalam pergaulan internasional. Dapat diartikan bahwa konsepsi Demokrasi dan pelaksanaan Hak Asasi Manusia adalah standar yang saat ini menjadi keniscayaan bagi setiap negara dalam menjalankan tatanan pemerintahannya.

Demokrasi secara harfiah berasal dari bahasa Yunani yakni : demos dan kratos yang berarti pemerintahan rakyat. Pengertian ini secara mutlak menempatkan tatanan sistem ketatanegaraan sepenuhnya berasal dari, oleh dan untuk rakyat. Terjemahan demokratis secara epistimologis mengandung contradiction interminis artinya ada kontradiksi istilah, karena tidaklah mungkin rakyat yang diperintah pemerintah juga menjadi pemerintahnya. Secara actual empiric yang memerintah selalu berjumlah sedikit (elit) dan bukan massa rakyat (M. Dawam Rahardjo ; 1996:4).

Read the rest of this entry »

PERADILAN SESAT DAN IRONI KONDISI HUKUM INDONESIA

September 11th, 2008 by gendo

I Wayan “Gendo” Suardana

Praktik peradilan sesat di Indonesia bukanlah “barang” baru di Indonesia. Hal ini kerap kali terjadi di dalam dunia peradilan di negara yang mengaku sebagai negara hukum (rechtstaat). Banyak orang yang tidak bersalah selanjutnya atas nama ketidakprofesionalan aparat penegak hukum, maka orang-orang tersebut ditangkap, ditahan, divonis selanjutnya mendekam di penjara. Beberapa kasus yang pernah terjadi misalnya: Sengkon dan Karta yang harus mendekam di penjara, masing-masing selama 7 tahun dan 12 tahun penjara karena divonis melakukan kejahatan pembunuhan, lalu sepasang suami istri di Gorontalo yang dipaksa mendekam dipenjara karena divonis melakukan pembunuhan terhadap putri mereka, namun belakangan ternyata putri mereka masih hidup. Demikianpula terjadi pada Budi Harjono seorang pemuda di Bekasi yang disangka membunuh ayah dan menganiaya ibu kandungnya, tetapi juga tidak terbukti.

Dugaan atas kejadian salah tangkap dan salah vonis terhadap 3 (tiga) orang terdakwa yang sebagian telah divonis penjara atas kejahatan pembunuhan terhadap Asrori (versi kebun tebu), menambah daftar panjang dosa peradilan di Indonesia. Namun saat kasus dugaan pembunuhan berantai yang dilakukan Ryan dan ternyata Ryan mengakui salah satu korbannya adalah Asrori, maka mulailah ada dugaan atas praktik peradilan sesat yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

Read the rest of this entry »

Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda

June 28th, 2008 by gendo

Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.
(Che Guevara)

Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin. Kupilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.

Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan kubantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan kutemani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Kurasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.

Read the rest of this entry »

“EKSPRESI YANG TERAMPAS NEGARA”

June 22nd, 2008 by gendo

Proses transisi menuju demokrasi di Indonesia, belum juga menampilkan sosoknya yang jelas. Bahkan mulai muncul kekhawatiran dan pertanyaan apakah transisi di Indonesia memang sedang bergerak menuju sebuah Negara yang demokratis atau bakal kembali ke system pemerintah otoriter. Kejatuhan Soeharto oleh gerakan Reformasi, yang kemudian diharapkan sebagai awal perubahan total bagi terbentuknya negara yang berkedaulatan rakyat dan demokratis ternyata makin jauh saja dari kenyataan.Sebagai sebuah negara modern yang berbentuk republik, Indonesia harus memahami jati diri tersebut. Konsep Negara Republik adalah selaras dan tidak bisa dilepaskan sama sekali dengan konsep demokrasi. Intinya adalah kedaulatan rakyat dimana rakyatlah sebagai pemegang kedaulatan tertinggi atas negara ini, sehingga tidak seorangpun berhak sewenang-wenang terhadap hak-hak dasar rakyat. Keabsahan Indonesia sebagai sebuah negara, justru terletak pada sejauh mana negara ini mampu menjamin hak-hak dasar dan kebebasan rakyat. Disertai penguasa negara yang tunduk kepada kemaslahatan umum. Senada dengan pernyataan Deliar Noer; Negara terikat perjanjian dengan manusia. Absahnya sebuah negara, apabila masyarakat memberikan pengakuan diatasnya. Jika kemudian negara menghianati perjanjian , dalam arti tidak lagi melindungi dan menjaga hak dasar warga negara, maka Negara bisa ditentang bahkan digulingkan. Jadi legitimasi negara sangat bergantung pada pengakuan yang diberikan oleh masyarakat yang diukur dari terpenuhi atau tidaknya hak dan kebutuhan serta kebebasan warga negara[1]

Read the rest of this entry »

Gerakan Mahasiswa dalam Manuver Borjuasi Nasional

June 11th, 2008 by gendo

Melenyapkan kejahatan adalah awal dari kebajikan, dan menyingkirkan kebodohan adalah awal dari kebijaksanaan. (Gerard M Hopkins)

Mencermati perjalanan reformasi seiring dengan proses transformasi kepemimpinan nasional, ada beberapa hal yang patut disimak. Berbagai hal kegiatan yang berbau politik muncul dipermukaan, dari yang serius bahkan sampai yang bersifat dagelan muncul tanpa ada rem cakram pencegahnya alias blong.

Perubahan dan guliran konstelasi politik sedemikian cepat meninggalkan stasiun per stasiun, di mulai sidang umum dengan terpilihnya presiden baru Gus Dur sampai kemudian mengalami eskalasi kepada terselenggaranya Sidang tahunan MPR. Reformasi total yang dulu digembar-gemborkan oleh mahasiswa dan bahkan telah sempat untuk membangunkan kesadaran rakyat pada kesadaran riil kini mulai mengalami pembiasan.

Read the rest of this entry »

Kesaksian Korban Pasal Lese Majeste

June 11th, 2008 by gendo

Kesaksian Korban Pasal Lese Majeste
Penulis : I Wayan “Gendo” Suardana

Ini merupakan sedikit dari pengalaman hidup yang telah saya lalui sebagai suatu pedoman saya untuk melangkah ke depan.

Lahir di sebuah desa di Ubud, tepatnya di Banjar Padangtegal Kelod - Gianyar 30 tahun silam, dengan nama I Wayan Suardana sering dipanggil Gendo. Saya dibesarkan oleh Ibu semenjak ditinggal Bapak pada usia dua tahun, seorang ibu yang cuma tamatan kelas tiga SD dan pedagang kelontong di pasar desa. Seorang perempuan dengan status janda yang didera penyakit menahun, tapi mampu mengantarkan saya hingga jenjang mahasiswa.

Semangat untuk survive itu membuat saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa beliau sebagai sumber inspirasi. Sosok idola yang kemudian meninggalkan saya untuk selama-lamanya pada tahun 2000 sehingga menambah label bukan hanya yatim tapi lengkap menjadi yatim piatu. Penerapan disiplin ala tentara dalam keluarga secara tidak sadar membentuk karakter dan watak saya menjadi keras dan selalu memberontak. Sehingga tudingan sebagai anak nakal, bandel, nilai raport merah - jauh dari kriteria sebagai anak baik- acapkali tertuju kepada diri saya. Mungkin dengan menentang aturan yang saya anggap sebagai suatu alat menekan dan mengekang itulah yang kemudian saya yakini sebagai arti kata ?lawan?.

Read the rest of this entry »